Tenang Menghadapi Anak Belajar dari Rumah selama Pandemi, Apa Bisa?

Updated: Sep 3, 2021

Pada 30 Maret 2021, Sadar Ibu menyelenggarakan Program Sharing Session dengan Offie Dwi Natalia, seorang Psikolog Pendidikan. Tema yang dibagikan adalah pengasuhan dan pembelajaran jarak jauh yang sedang dialami oleh para orangtua. Pembahasan dalam Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merilis survei mengenai Ibu di lingkungan keluarga mengalami beban domestik berlipat saat pandemi Covid-19 terjadi, terutama dalam mengurus buah hatinya. Dalam situasi Covid-19, ibu menjadi tumpuan pengasuhan dengan beban domestik yang berlipat serta beban ganda yang juga dialaminya.

Kondisi beban domestik dan psikologis ibu selama pandemi harus menjadi perhatian bersama karena dapat mempengaruhi tingkat kekerasan di dalam rumah tangga karena stres yang dialami. Data survei KPAI menunjukkan hanya 33,8 persen orang tua yang pernah mengikuti pelatihan atau memperoleh informasi tentang pengasuhan. Wakil Ketua KPAI Rita Pranawati merekomendasikan Ayah dan Ibu harus bekerja sama dalam urusan rumah tangga dan pengasuhan. Menurut data survey, 56 persen ibu rumah tangga mengaku stres dan mengalami gejala kecemasan, sulit tidur, serta mudah marah. Hasilnya menunjukkan, 9 dari 10 (91 persen) ibu rumah tangga yang mengikuti survei mengaku terdampak Covid-19.


Dalam Sharing Session (SS), para peserta melakukan tanya jawab langsung dengan narasumber. Beberapa Ibu mengeluhkan anaknya jadi ketergantungan dengan gawai pintar cukup signifikan. Peserta lain menambahkan kekhawatirannya dengan perubahan perilaku anaknya di masa pandemi seperti anak mudah stress, cemas dan menjadi takut bertemu orang. Namun yang menarik dibahas adalah anak-anak yang sudah kehilangan daya ketertarikannya untuk belajar secara daring. Terlebih anak usia dini yang butuh sekali mengeksplorasi segala hal. Mengembangkan kemampuan sensori dan motoriknya.


Seringkali Orangtua juga kehabisan daya untuk mendampingi anak belajar, kelelahan karena sambal work from home sekaligus dibebani tugas domestik rumah. Kekerasan pada anak juga kerap meningkat di era pandemic, hal ini dipicu oleh orangtua yang juga mengalami stress di masa pandemic. Kemampuan mengontrol emosi dan mengelola ekspetasi pada anak menjadi hal krusial yang dibutuhkan saat ini. Kebutuhan orangtua yang kurang terpenuhi juga menjadi pemicu kekerasan yang terjadi. Bahkan kasus ini tidak hanya terjadi pada anak, namun pada pasangan suami istri melakukan KDRT yang ikut meningkat siginifikan pada masa pandemi melalui data survey Komnas Perempuan 2020.

Dalam mendampingi anak belajar, Offie menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pengasuh atau pendamping anak belajar pada pembelajaran jarak jauh.


Pertama, pemahaman waktu dan tempat belajar anak. Pendamping bisa merencanakan waktu terlebih dahulu untuk bisa melihat kebutuhan anak. Seperti, tidak mengajak anak belajar saat anak baru bangun tidur atau belum makan. Pastikan kebutuhan dasar anak sudah terpenuhi untuk siap menerima pelajaran. Pengaturan ruang belajar juga menjadi faktor penting dalam membangun suasana anak belajar. Rancangan pembelajaran juga sudah harus disiapkan.


Kedua, metode pendekatan belajar terhadap anak. Saat masuk dalam tahap ini pastikan kondisi orangtua maupun pendamping dalam kondisi baik tidak sedang marah atau stress. Emosi yang beresonansi dalam lingkungan sekitar juga mempengaruhi anak. Kenali lagi tempramen bawaan anak dan tipe belajar anak. Sehingga dapat membangun kelekatan danf tanpa reward berupa hadiah materi namun penguatan pujian positif yang focus terhadap proses belajar anak. Misal, “Wah gambarnya menarik sekali, warna yang kamu pilih membuat gambarnya jadi makin hidup dan terlihat ceria, Ibu suka sekali.” Hal ini akan membangun efek positif yang baik pada anak untuk fokus pada proses yang dia kerjakan tidak hanya hasil yang sempurna. Hindari pemberian hadiah atau iming-iming dalam proses belajar. Karena hal ini hanya akan membentuk motivasi eksternal yang tidak membangun minat anak untuk belajar.


Ketiga, ranah rangsang belajar anak sangat penting untuk diketahui oleh orangtua. Ada anak yang ranah rangsangan terkuatnya ada di sensori motor. Orangtua bisa menyediakan permainan dan alat tulis untuk memfasilitasinya. Kemudia, rangsangan audio atau yang sensitif terhadap music. Anak lebih senang beraktivitas dengan menggunakan audio. Lalu, visual seperti dengan video atau gambar. Terakhir, roleplay juga menjadi ranah rangsang yang menyenangkan bagi anak untuk membangun komunikasinya.


Keempat, yang harus diperhatikan adalah persiapan. Perlu kreativitas, suasana hati yang mendukung (jika suasana hati sedang tidak baik, bisa berikan jeda sebentar agar bisa kembali lagi dengan keadaan yang lebih baik), waktu untuk fokus, siapkan waktu istirahat, dan berikan pujian kalimat penyemangat yang positif fokus pada proses tidak hanya memuji “bagus, hebat, keren, dsb” dan bisa berikan pelukan hangat untuk anak yang sudah mencoba untuk belajar bersama. Hal ini tentunya tidak lah mudah, butuh konsistensi dan komitmen bersama dari seluruh anggota keluarga atau pendamping yang ikut mengasuh anak di dalam rumah.


Selanjutnya Sadar Ibu akan memfasilitasi kelanjutan Sharing Session bertemakan pengasuhan. Jika teman-teman SI ingin mengetahui info terkait program-program selanjutnya, tetap ikuti info terkini pada akun sosial media Sadar Ibu. Mari berdaya bersama untuk bisa saling mengoptimalkan peranmu.




3 views0 comments