Menjadi Ibu, Dimulainya Proses Mengenal Diriku

Updated: Dec 2, 2021

Tidak pernah menyangka menjadi Ibu adalah sebuah pengalaman yang mengubah hidup. Seperti tidak ada yang pernah memberi tahu bila ini adalah sebuah peran baru yang sungguh menantang. Aku dilahirkan di keluarga yang (seingatku) penuh dengan kebahagiaan, Ibu dan Ayahku memiliki peran penting dalam perkembangan anak-anaknya, mereka seperti hadir dalam setiap momenku. Walaupun pasti ada sebuah drama-drama keluarga yang menjadi baggage tersendiri di hari dewasaku. Tapi, secara keseluruhan aku melihat keluargaku baik-baik saja, aku baik-baik saja, aku dan saudara-saudaraku tumbuh baik-baik saja, sehingga aku merasa aku pun akan baik-baik saja saat memiliki keluarga sendiri. Karena sepertinya semua akan mengalir baik-baik saja seperti apa yang ada di keluargaku. Ternyata tidak semudah itu ya ☺


Aku menikah diumur yang menurutku sudah cukup matang, 26 tahun. Suamiku 4 tahun lebih tua dariku. Sebelum menikah kami melakukan beberapa kali sesi konseling pra nikah, kami membicarakan banyak hal dari masalah anak, uang, agama hingga yang seputar sex. Satu bulan menikah, aku dinyatakan hamil. Sembilan bulan kemudian tentunya kami menjadi orang tua baru, aku menjadi ibu. Menjadi ibu yang aku pikir akan baik-baik saja seperti apa yang kulihat pada Ibuku saat aku masih kecil. Menjalani rumah tangga yang aku pikir juga sudah aku persiapkan lahir batin sebelumnya akan baik-baik saja. Ternyata, ini adalah pintu yang membukaku ke halaman hidup baru.



Tiga bulan pertama aku bingung, emosi membludak, tidak mudah ternyata bagi aku yang sejak kuliah hingga menikah selalu aktif di organisasi, di kampus, di kantor. Aku yang selalu produktif untuk menjadi berdaya, namun saat menjadi ibu aku benar-benar merasa hopeless, tidak berdaya, dan merasa tidak produktif. Merasa sendirian karena ditinggal suami bekerja, aku sepertinya iri dengan dirinya yang bisa tetap memiliki dunianya, sedangkan aku di rumah harus mengurus bayi kecil yang selalu bergantung pada diriku. Aku bahkan tidak merasa nyaman dan bahagia saat menyusui saat itu, aku merasa bersalah memiliki perasaan itu karena dari apa yang aku baca, dari apa yang aku lihat semua ibu mengatakan mereka menikmati momen bonding itu dengan bayi mereka, seperti ada yang salah denganku.


Tiga bulan selama cuti melahirkanku, banyak sekali yang terjadi. Emosi yang cenderung dikuasai amarah, tidak sabaran, menyerah, bingung akan apa yang aku rasakan. Aku merasa harus punya pegangan, menambah ilmu menjadi ibu ini (yang dulu aku pikir semua ibu akan memiliki nalurinya), dan mencari teman ngobrol dan berbagi cerita. Sepanjang 26 tahun aku hidup merasa baik-baik saja, ternyata aku belum mengenal diriku seutuhnya. Terlambat? Mungkin saja. Tapi aku tidak mau menganggapnya sebagai kegagalan. Aku harus bersyukur karena menemukan momen itu sekarang, saat anakku masih kecil, saat aku bisa berbenah diri dan mendampingi dia yang masih panjang perjalanannya. Dengan mengaku ‘aku tidak baik-baik saja’ dan ‘aku tidak mengenal diriku’, aku bisa lebih ringan menjalani hari-hariku dan menjalani proses belajarku.


Percaya deh, kalau kamu ibu baru yang memiliki perasaaan-perasaan yang sama denganku, yang terdengar buruk, yang terasa berbeda dengan ibu lainnya; perasaan kamu itu valid, tidak ada yang salah dengan perasaan itu. Akui, akui, akui. Akui kalau kamu memiliki perasaan itu, hargai perasaan itu, dan katakan pada diri sendiri : you’re fine, mari cari jalan keluarnya, mari cari tahu bagaimana menghadapinya. Karena semakin kita menolak perasaan itu, semakin kita sulit untuk berdamai dengan keadaan.


Sekarang, walaupun hari-hari sulit itu ada, menjadi Ibu adalah sebuah proses hidup yang aku sangat syukuri dapat menjalaninya. Aku menyadari, karena anak-anaklah aku menjadi pribadi yang terus belajar. Bukan hanya belajar untuk berdaya, tapi belajar untuk terus mengenal diriku dan menjadi lebih baik. Sejauh ini, tidak ada pelajaran hidup lain yang lebih hebat dari menjadi seorang Ibu.


Dengan berbagi bersama teman-teman SI, aku merasa tidak sendirian menjalani peran ini. Melalui program-program dari SI, aku banyak belajar dalam transisi peran ini untuk bisa optimal dalam melakukan banyak hal dengan peranku saat ini, menjadi Ibu.


-DR

21 views0 comments

Recent Posts

See All