Memaafkan Kesalahan Orang tua di Masa Lalu

Updated: Dec 2, 2021




Saya tumbuh besar dengan membenci Ibu saya. Saat ini saya adalah seorang Ibu dari satu orang anak.

Ketika saya melahirkan, saya benar-benar dihadapkan dengan keadaan sulit dan saya bingung harus bertanya pada siapa. Bertanya kepada Ibu saya bukan pilihan pastinya.. Karena saya merasa Ibu saya bukan contoh yang baik.

Saya terus menyalahkan Ibu saya ketika saya tidak mampu melakukan peran saya dengan baik. Contohnya ketika saya tidak mengerti apa yang harus saya lakukan ketika anak saya baru lahir dan terus menerus menangis. Saya tidak bisa membedakan bumbu dapur karena saya merasa tidak pernah diajari oleh Ibu saya.. Dan masih banyak contoh lainnya..

Masih jelas sekali di ingatan saya, ketika saya duduk di sekolah dasar dan Ibu saya bercerita (berkali-kali) bahwa beliau ingin menggugurkan saya saat di kandungan.. Saya juga tumbuh besar berpindah-pindha rumah yang artinya pola asuh saya pun berpindah tangan berkali-kali. Saya sering mengalami penolakan dari Ibu saya ketika saya mengajak Ia bermain atau meminta Ia menemani saya tidur malam. Saya juga masih ingat bagaimana ekspresi bahagia Ibu saya diterima bekerja di sebuah perusahaan di luar pulau Jawa.. beliau benar-benar bahagia bahkan ketika saya tanya “Aku nanti sama siapa?” beliau dengan entengnya menjawab “Kamu kan sama eyang putri” dan masih banyak lagi penolakan yang saya terima dari Ibu saya.

Memori-memori ini yang perlahan muncul dan mengganggu saya semenjak saya punya anak. Semakin saya sadari memori ini, semakin saya merasa tidak diinginkan.. Dan saya semakin membenci Ibu saya.

Bahkan ada masanya ketika saya membesarkan anak didasari oleh perasaan balas dendam. Saya berjanji pada diri saya bahwa saya tidak akan menjadi seperti Ibu saya yang suka menitipkan anak kepada orang lain dan saya berjanji memberikan perhatian penuh pada anak saya agar Ia tidak merasakan penderitaan yang saya rasakan di masa lalu.

Karena rasa balas dendam ini lah, seringkali saya merasa bangga sekali kalau anak saya bisa melakukan sesuatu yang membuat Ibu saya kagum. Saya merasa ketika Ia memuji anak saya sebenarnya beliau sedang memuji saya secara terselebung dan di saat itulah saya merasa puas karena telah melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Ibu saya.

Tapi suatu hari.. Saya bertemu dengan Kakak Ibu saya.. Entah bagaimana awalnya, tapi tante bercerita bahwa Ibu saya tidak memiliki support system yang baik ketika Ia mengandung saya. Ibu tidak bermaksud untuk ‘tidak menginginkan’ saya.. Hanya saja keuangan keluarga pada waktu itu benar-benar kurang baik sehingga mengandung saya (mungkin) menjadi ‘beban’ tersendiri baginya. Sesudah saya lahir pun, Ibu saya berusaha untuk memenuhi kebutuhan saya. Tapi memang tidak bisa berjalan mulus karena selain mengurus saya, beliau harus bekerja sendirian dan membiayai kebutuhan Ayah saya. Belum lagi banyak sekali perilaku Ayah saya yang tidak bisa diterima dengan akal sehat.

Keputusan Ibu saya untuk merantau ke luar pulau Jawa pun ternyata dikarenakan ingin menghindari Ayah saya yang sudah sangat membebani dirinya. Ibu saya sudah tidak sanggup menghadapi perilaku Ayah sehingga ‘rela’ meninggalkan dan menitipkan saya dengan keluarga di Jakarta.

Mendengar beberapa cerita dari sisi lain kehidupan Ibu saya, saya merasa Allah seperti menjawab doa saya pelan-pelan dan hati saya pun perlahan melunak. Selain berdoa, ada beberapa cara yang saya lakukan dalam self healing journey saya:

  1. Saya belajar untuk berempati dengan Ibu saya.. Menyadari bahwa apa yang Ia lakukan di masa lalu merupakan hal terbaik yang bisa Ia upayakan untuk saya.

  2. Saya melakukan breathing therapy dan ketika ada memori tentang masa lalu yang tidak enak muncul, saya menerima (tidak menepis atau mengenyampingkan) memori tersebut. Kemudian saya beri afirmasi memori tersebut. Salah satu contoh kalimat afirmasi yang saya ungkapkan adalah “Mungkin dia (Ibu saya) tidak menginginkan saya… tidak apa-apa... Kelahiran saya bukan kesalahan karena Allah menghendaki kelahiran saya. Kelahiran saya merupakan berkat untuk orang lain. Allah akan membuat hidup saya membawa banyak manfaat untuk orang-orang di sekitar saya.”

  3. Saya juga menjalani konseling dengan seorang Psikolog Klinis Dewasa. Buat saya, penting sekali menemukan orang yang supportive mendengarkan cerita dan pendapat saya.

  4. Saya juga aktif mengikuti kelas-kelas self development dan support group untuk menambah ilmu serta mendapatkan dukungan.

  5. Saya membuat daftar hal apa saja yang tidak saya dapatkan di masa lalu dan mengenali emosi yang saya rasakan tentang hal-hal tersebut kemudian saya mengajak diri saya untuk menerima dan memaafkan memorii tersebut. Misal: saya tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tua dan saya merasa kecewa, tidak diinginkan dan tidak berharga. Kemudian saya mengajak diri saya untuk menerima keadaan tersebut (lihat no.1) lalu memaafkan orang tua saya.

  6. Saya juga membuat daftar hal apa saja yang saya dapatkan di masa lalu dan mengenali emosi yang muncul terhadap hal-hal tersebut kemudian mengajak diri saya untuk menerima dan mensyukuri hal itu. Misal: walaupun ketika kecil tidak dibesarkan oleh orang tua sendiri, saya masih memiliki om, tante dan eyang putri yang merawat saya dengan baik. Mereka mengajarkan banyak hal yang mungkin saja banyak orang tidak dapatkan dan saya sangat bersyukur atas hal itu.

Sekarang, setiap saya melihat anak saya tumbuh dengan baik.. saya seperti disadarkan tentang betapa beruntungnya saya bisa memiliki suami yang baik dan bertanggung jawab serta support system yang suportif. Saya merasa semua perempuan bisa tumbuh dengan baik di lingkungan yang mendukungnya.

Saat ini juga saya memahami bahwa kejadian di masa lalu adalah hal yang tidak bisa diubah. Namun memori dan emosi yang dirasakan tentang kejadian di masa itu sangat mungkin untuk saya kelola.

Untuk kamu yang memiliki cerita serupa, jangan pernah merasa sendirian karena pertolongan selalu tersedia di sekitar kita. Program Sadar Ibu bisa menjadi salah satu opsi pilihan untuk membantu self healing journey kamu. Mari berdaya bersama karena woman who healed, she helps others to heal.

-AR



20 views0 comments

Recent Posts

See All