Healthy Lifestyle Journey

Updated: Dec 2, 2021



Aku seorang Ibu satu orang anak yang berusia 4 tahun. Bulan lalu, aku mengambil jeda untuk diriku sendiri dari rutinitas. Aku merasa butuh sekali mengosongkan pikiranku yang penuh dan sibuk di setiap menit. Hal yang biasa aku lakukan seperti mendengarkan podcast atau menonton kanal youtube yang aku senangi. Tontonan ringan yang cukup menghibur seperti mukbang, daily life Ibu Rumah Tangga yang tinggal di Negara lain, seperti “Kimono Mom’s Kitchen”. Aku jadi merasa tidak sendiri menjalani peran Ibu Rumah Tangga ini.


Tak jarang aku juga senang mengunjungi jejaring sosial seperti Instagram untuk membaca informasi dari akun-akun terpercaya seputar dunia parenting, healthy lifestyle, self-healing dan lain sebagainya. Rasanya mudah sekali untuk dapat informasi pada era digital ini. Kadang saat kita asik berselancar di dunia maya, kita jadi tidak sadar dan tidak kenal waktu. Aku kembali melakukan refleksi diri dan berpikir panjang, pentingnya menjaga kesehatan mataku. Kebetulan mataku sudah minus, tapi aku jarang sekali menggunakan kacamataku. Kasihan rasanya pada mataku ini.


Kadang aku sering self-talk dengan diri sendiri, ternyata ngobrol dengan tubuh kita sendiri perlu dilakukan, loh. Aku suka tanya, “kamu lagi butuh apa sih?” “kamu mau apa?” “Coba kasih aku sign, apa yang harus aku lakukan untuk memenuhi kebutuhanmu?” “Sebelum kamu jatuh sakit, aku akan berusaha semampuku untuk mengantisipasinya terlebih dahulu.” Perjalanan bicara dengan diri sendiri ini bermula karena dua tahun lalu sebelum aku menginjak usia 30 tahun, aku merasa tidak puas dengan diri sendiri, merasa hidupku begini saja, aku juga tidak memperhatikan tubuhku dengan asupan gizi seimbang, jadi untuk makan sayur dan buah itu hanya jika aku ingat saja. Tidak pernah menjalankan sayur dan buah menjadi menu harian ku, apalagi tambahan suplemen dan sebagainya, aku tidak pernah tahu dan mengganggap itu semua penting.


Aku membayangkan tubuhku dulu bekerja keras tanpa aku perhatikan dengan baik. Sampai akhirnya aku melahirkan dan menyusui, ternyata aku kekurangan vitamin dan mineral yang berdampak besar pada tubuhku yang menjadi lemah, lesu, moody, bahkan mengalami vertigo dan dilarikan ke UGD. Dari situ aku melakukan kontemplasi diri. Aku merasa bersalah tidak memperhatikan tubuhku, aku mulai mencari tahu ilmu naturopathy, self-healing, TAT, buteyko, yoga dan lain sebagainya.

Aku juga terkadang menyesal karena selama ini tidak mempersiapkan diri dengan baik dan matang ilmu mengenai persiapan sebelum menikah, hamil, menyusui, dan ilmu pengasuhan. Aku merasa tidak punya pemahaman apa-apa dengan hal-hal tersebut hingga dihadapkan dengan kondisi seperti ini. Aku masih berproses untuk menemukan cara yang sesuai dengan kebutuhanku untuk proses penyembuhan secara holistik.


Sama halnya dengan mengistirahatkan mataku, ada hal yang baru aku rutinkan kembali setelah sekian lamanya. Aku kembali membaca buku secara fisik, hampir lima tahun aku tidak membaca buku secara fisik. Karena akses informasi yang amat sangat mudah dengan gawai kita membuatku jadi malas membaca dari suatu buku. Rasanya terakhir membaca buku itu aku lakukan saat kuliah dulu. Aku selalu berdalih “Ah, sudah tidak ada waktu lagi dong kalau sudah punya anak.” Lalu aku kembali sibuk dengan gawaiku, menjadi adiktif terhadap situs jejaring sosial atau media sosial ini.


Sampai akhirnya beberapa bulan terakhir aku dan suami memberanikan diri untuk mecoba kebiasaan baru salama pandemi, yaitu membaca buku. Kebiasaan baru yang bermanfaat sebagai self-enrichment masing-masing dari kami. Buku pertama yang aku beli setelah jeda membaca buku adalah “Happiness inside” yang ditulis oleh Gobind Vashdev. Senang sekali aku bisa menghabisi bacaan tersebut hanya dua hari saja, aku suka sekali bukunya. Rasanya ingin sekali aku meng-highlight semua tulisan didalamnya karena banyak kata-kata yang membuatku termenung dan berpikir sendiri.


Dari awal sampai berakhirnya penciptaan ala mini, ketidakpastian adalah sebuah kepastian, tetapi kekhawatiran kita adalah sebuah pilihan, bukan?”

“Selain percaya penuh bahwa alam memberikan yang terbaik serta berserah total pada Pencipta, alangkah indahnya jika kita bisa mengajak puasa akar perilaku yang menyebabkan kita mempunyai kebiasaan cemas dan khawatir.”

-Happiness Inside, Gobind Vashdev


Aku coba renungi kutipan tersebut di atas, rasanya begitu mendalam. Apa sih yang aku khawatirkan dan cemaskan dari dulu. Padahal hal utama yaitu ketidakpastian. Dalam kepercayaan yang aku anut, yaitu Islam, kita harus berserah dengan ketidakpastian itu karena semuanya bisa terjadi atas izin Allah. Sebenarnya kita bisa saja memilih untuk menciptakan emosi dominan mana agar ketidakpastian ini dapat dijalani dengan baik. Tapi sebagian besar emosi dominanku adalah cemas dan khawatir. Aku sadar akan hal ini dan mulai mempelajari hingga mempraktikan buteyko atau olah napas untuk menyembuhkan rasa cemas dan khawatir yang sering hadir dalam keseharian hidupku.


Alhamdulillah, teknik ini sangat membantuku untuk merasa tetap tenang atau waras dengan mengatur pola napas dengan baik. Teman-teman SI bisa coba lakukan olah napas yang baik juga ketika mengalami kecemasan berlebih, namun hal ini berbeda dengan self-healing, semua tergantung dari kebutuhan diri kita sebagai individu. Setelah membatasi waktu harian untuk screen-time di sosial media, pikiranku juga merasa lebih baik dan tidak penuh seperti biasanya.


Detox Social Media juga bisa menjadi solusi yang bisa dicoba oleh teman SI. Lelah dengan berita buruk, profil berbagai individu, kesibukan orang lain, dan hal lainnya yang lainnya yang mungkin sebenarnya tidak kita butuhkan di masa pandemic saat ini untuk menjaga kesehatan mental kita. Teman SI juga bisa mengedukasi diri dengan program-program dari Sadar Ibu untuk menunjang informasi mengenai kesehatan mental untuk dapat mengoptimalkan peran kita masing-masing.


-AS



15 views0 comments

Recent Posts

See All