Berdamai dengan Masa Lalu, Menerima Masa Kini

Updated: Dec 2, 2021

Hai teman SI, aku seorang Ibu dari satu orang putri dan tengah mengandung anak ke-2 ku. Kali ini aku akan bercerita tentang sepenggal perjalananku dalam pencarian jati diri atau self-journey. Setelah ku pahami, sepanjang kita hidup ini kita memang akan melewati fase self-discovery. Untuk teman-teman SI yang sedang membaca, bisa siapkan kudapan dan minuman hangat untuk menikmati tulisanku. Semoga bisa merasakan emosi yang tertuang dalam tulisan ini.


Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Aku besar dilingkungan yang tidak terlalu baik tapi tetap ku syukuri dengan sepenuh hati karena dengan itu aku bisa menulis ini. Orangtuaku berpisah, perceraian sah tersebut berlangsung saat aku duduk di bangku kuliah. Namun, pertengkaran dan perpisahan mereka sudah berlangsung sejak aku berusia 5 tahun. Aku tidak ingat jelas kapan pertikaian mereka terjadi, yang jelas jika orang bilang lima tahun awal pernikahan adalah fase terberat, orangtuaku tidak berhasil melewatinya. Ayah juga sering pergi dalam rentang waktu yang sangat lama, lalu kembali, lalu pergi, seperti pola berulang yang tidak jelas.


Aku besar dibawah pengasuhan Ibuku. Ibuku seorang wanita karir yang menghidupi 3 anaknya. Ada masa kami senang, ada masa kami susah, ada banyak kenangan indah bersama keluarga tapi banyak juga kenangan pahit yang kami rasakan. Sampai saat Ibuku sakit kanker payudara stadium 3b lanjut, sebetulnya pola makan Ibuku tidak terlalu baik, berulang kali tumbuh benjolan tak lazim ditubuhnya sejak aku SMP. Aku baru sadar Ibuku juga tidak sehat secara mental. Dia banyak menangis tersedu-sedu di sepertiga malam saat ibadah, terkadang ada masa dia ingin menyudahi hidupnya, ada masa dia ingin terus bersama anak-anaknya, tapi terkadang dia kesulitan mengontrol emosinya.



Tapi bagiku, dia tetap wanita terkuat yang pernah aku kenal. Dia tetap bara api dalam setiap langkahku. Satu-satunya orang yang aku percayai dia mencintaiku seutuhnya. Walau hubungan kami juga tidak selalu harmonis, ada masa-masa aku membangkang dan tidak sejalan dengan Ibuku tapi aku menyadari dia adalah hartaku. Aku ingat aku pernah bilang “kalau aku ga punya apa-apa didunia ini, Mama sudah cukup untukku.” Bagiku Ibuku adalah “rumahku” tempatku berpulang dimanapun dia berada. Tapi Tuhan berkata lain, semua makhluk didunia ini tidak ada yang abadi. Ibuku meninggal dunia, meninggalkanku yang masih di bangku kuliah di semester 6, adikku yang baru masuk kuliah, dan adik kecilku yang masih SMA. Ibuku meninggal tepat disampingku dengan lantunan surat Yassin yang kubacakan dan airmata yang turun dari kelopak matanya.


Kehidupanku berubah 360 derajat, aku banting tulang untuk meneruskan hidup, beruntung aku kuliah dengan dana beasiswa prestasi, tapi kehidupan sehari-hari untuk kebutuhan keluargaku, sekolah adik-adikku, dan kebutuhan rumah secara tidak langsung menjadi tanggungjawabku. Ayahku kembali tinggal bersama kami, aku masih ingat ada masa aku tidak pernah pulang ke rumah karena kuliahku di luar kota karena rumahku tidak lagi sama. Ayah yang usianya tidak lagi muda, tidak bekerja tapi mengurus rumah menggantikan Ibuku. Ayah dan Ibuku tidak menikah lagi satu sama lain, mereka juga sempat saling minta maaf di hari-hari sebelum Ibuku meninggal dunia.


Aku melanjutkan hidup kembali dengan menjalani kuliah, sambal bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Aku masih ingat, ada satu hari aku terbangun dengan perut lapar, lalu aku makan nasi ditaburi garam dan kecap. Aku tidak menangis, aku tertawa mengingat itu, sambal membatin “Gila ngerasain juga makan begini.” Sampai pernah aku betul-betul keletihan dengan mendapat beberapa tekanan dari keluarga. Adikku mengancam akan berhenti sekolah, aku akui kami bertiga mengalami fase grieving dan stres yang berbeda-beda. Aku menangis sampai di kamar kos ku, ku panggil teman kosku karena aku menangis hingga tanganku tremor dan kaku. Itu pertama kali aku merasakannya.


Esok harinya aku pergi ke rumah sakit untuk bertemu dokter umum. Aku melakukan pengecekkan laboratorium dari urin dan darah. Semua hasilnya bagus dan normal, Dokter Umum yang bertugas memanggilku. Memang Dokter tersebut bukan Psikolog, tapi dari situ aku tahu aku tidak sehat secara mental. Dokter membuka percakapan, apa yang aku kerjakan saat ini, tinggal dengan siapa, dimana keberadaan orangtuaku, aku anak ke berapa, dan semua hal yang menarik diriku untuk melihat kebelakang sejenak.


Aku masih ingat raut muka Dokter itu dan bertanya “kamu tidak terpikir mengakhiri hidupmu kan?”. Aku sontak kaget dan terkejut, tidak pernah terbesit dalam hidupku saat itu untuk mengakhiri hidup. Tapi ternyata Dokter bilang aku mengalami stress dan kelelahan dengan rutinitasku, yang saat itu sedang skripsi, mengejar ketinggalan kuliah, dan bekerja paruh waktu bahkan dipagi hari menjual makanan. Aku jug mengalami fase kehilangan sosok role model yaitu Ibuku, lalu walau tinggal kembali bersama Ayah, aku sudah kehilangan Ayahku sejak lama, figur Ayah seperti guardian angel bagi anak perempuannya.


Lalu dihadapkan dengan transisi menggantikan figur Ibu sekaligus Ayah sebagai tulang punggung untuk adik-adikku dengan peran-peran lainnya. Aku ingat Dokter memberiku obat penenang, dia bilang “satu hal yang saya lihat menguatkan kamu adalah iman, jadi tetap pegang teguh itu tapi ingat kamu boleh menangis, kamu boleh istirahat. Tidak semuanya kamu tanggung sendirian. Ruang sedihmu penuh sekali.” Memang banyak hal baik yang diajarkan Ibuku, namun cenderung membuatku tumbuh menjadi perempuan yang mandiri namun terlalu keras dengan diri untuk bisa tetap kuat, padahal kita perlu menerima untuk menjadi vulnerable.


Dari situ aku mulai mencoba berdamai dengan diri sendiri. Satu lagi, aku mulai berdamai dengan Ayahku. Ini tidak mudah, karena keluarga besar dari Ayah dan Ibu juga tidak akur, jadi banyak sekali yang menudingku tidak bakti dengan Ibu dan malah menyalahkanku karena bersikap baik pada Ayahku. Aku pelan-pelan menjauhkan diri dari lingkungan toxic yang terus memberi tekanan untuk aku berperilaku sesuai ekspetasi mereka.


Ada banyak sekali hal yang berdampak pada diriku karena memiliki father issues. Seringkali aku bersikap sangat keras dengan laki-laki, aku punya banyak teman laki-laki saat itu, tapi jika mereka jadi menyukaiku aku bisa menjauhi mereka habis-habisan. Aku merasa tidak punya kepercayaan pada komitmen. Aku merasa semua laki-laki sama. Seringkali orang berpikirku jahat karena membuat orang yang menyukaiku harus berusaha berkali-kali karena menurutku pengorbanannya biasa saja. Itu bukan mauku tapi jika aku menemui kemiripan kejadian atau perilaku, hal-hal tersebut bisa memicuku untuk ingat dengan perilaku Ayah. Tidak hanya me


Kini pelan-pelan aku mulai melihat ini secara holistik, ada banyak sekali tanda tanya tentang mengapa dan apa yang terjadi, tapi alih-alih mencari tahu lebih jauh, aku berusaha menerima. Rasa sakit terhadap Ayah jelas masih ada, aku mulai terbuka juga pada pertolongan. Pendekatan secara spiritual yang dibersamai dengan bantuan tenaga ahli seperti psikolog sudah aku lakukan. Aku mulai memaafkan, tapi tidak hanya memaafkan tapi juga melepaskan, penerapan mindfulness. Aku melihat dari helicopter view, Ayahku begini karena pola asuh yang dialaminya. Ayahku begitu karena punya alasan yang dia simpan sendiri, tapi aku sudah tidak bisa merubahnya. Semakin ingin ku merubahnya, aku tau seperti akan mematahkan dirinya. Aku menerima hal-hal yang tidak bisa aku rubah dan fokus pada diri untuk menentukan reaksi apa yang akan aku berikan.


Hal yang masih aku lakukan saat ini adalah menulis surat untuk Ayahku. Surat itu tidak aku berikan ke Ayahku, saat itu psikolog ku bilang jika ada momentum Ayah bertanya dan meminta maaf aku bisa buka pembicaraan tersebut. Jika tidak, surat itu tidak perlu disampaikan, ada hal lain yang bisa dirasakan Ayahku, dia akan hancur. Menurut psikologku bisa jadi dia takut tidak membuka percakapan tentang dirinya dan meminta maaf, karena dia tahu seberapa buruknya dia ketika dia berkaca dan itu akan membuat dia semakin hancur karena gagal menjadi Ayah.


Kata maaf yang aku tunggu dari mulutnya, tidak pernah keluar. Tapi kali ini aku belajar melepaskan dan memaafkan tanpa menunggu kata maaf darinya. Aku memulai kehidupan baru dengan suamiku dan anak-anakku dengan belajar dari apa yang telah aku lewati untuk tidak mengulanginya kepada anak-anakku dan belajar untuk saling mengasuh dengan suamiku dari masa lalu kami satu sama lain. Berdamai dengan masa lalu, membuat diriku lebih baik menjalani peranku. Sebelum tidur terkadang aku bicara pada diri sendiri bahkan kadang bertemu dengan anak dalam diriku, memeluknya dan mengatakan dia bernilai, hal ini menjadi rekonsiliasi dengan anak dalam diri kita membantuku melepas derita masa lalu dan membantu kita bahagia di masa kini. Terimakasih sudah membaca ini.

17 views0 comments

Recent Posts

See All