Aku dan Adjusment Disorder

Updated: Dec 2, 2021

Hai teman SI, perkenalkan namaku “A”, aku ingin menyempatkan berbagi cerita tentang pengalamanku sebagai penyintas dalam mental health issue. Pada tahun 2018, aku terdiagnosa “Adjustment Disorder” yang divalidasi langsung oleh Psikiater. Tapi, apa sih Adjustment Disorder itu? Aku akan menjelaskan kepada teman-teman SI mengenai pemahaman istilah tersebut.


Adjustment Disorder adalah kondisi stres jangka pendek yang bisa terjadi ketika seseorang mengalami kesulitan besar dalam mengelola atau menyesuaikan diri dengan sumber stres tertentu. Misalnya perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan kehilangan orang yang dicintai.


"Pada tahun 2013, sistem diagnostik kesehatan mental secara teknis mengubah nama adjustment disorder menjadi stress response syndrome. Hal ini dikarenakan, orang dengan adjustment disorder sering kali memilki beberapa gejala depresi klinis seperti sering menangis, memiliki perasaan putus asa dan kehilangan minat dalam melakukan aktivitas dan pekerjaannya."

(source: idntimes.com & Webmd)





Selain itu, aku juga mengalami OCD (Obsessive Compulsive Disorder) akan beberapa hal. Jadi saat masa kelam itu, aku terdiagnosis beberapa gangguan termasuk didalamnya juga mengalami anxiety. Setelah dilakukan beberapa kali konsultasi dan observasi, ternyata penyebabnya hal ini berasal dari wound pada inner-child ku. Tidak hanya itu, saat itu juga disertai dengan pengalaman kehilangan seseorang, yang mengakibatkan trauma berkepanjangan. Aku merasakan ketakutan dan kecemasan pada saat menghadapi situasi yang belum pasti itu. Meskipun aku tau di dunia ini tidak ada yang pasti, tetapi karena disorder yang aku derita, hal tersebut membuat diriku sangat tersiksa. Aku selalu merasakan rasa sesak dan merasa pikiran bercabang (duh kalu begini bagaimana, aku harus bagaimana…duh aku kenapa ga bisa, dan banyak pikiran negatif datang).



Mungkin aku akan flashback sedikit ke masa kecilku yang mungkin tanpa sadar dan tidak terasa bahwa hal tersebut mempengaruhiku yang telah dewasa kini. Aku besar di lingkungan yang disiplin karena papa ku dididik dengan gaya militer dan diterapkanlah pola asuh dengan gaya militer yang bersifat diktaktor tersebut oleh Ayahku kepada aku, yang menurutku salah-kaprah. Mungkin maksud beliau baik, tetapi Ayahku tidak melihat situasi dan usia ku yang pada saat itu masih kecil. Terasa jelas bagiku dan ingat sekali masa-masa kelam tersebut diingatanku sampai sekarang, bagaimana perlakuan kasar Ayahku terhadap aku yang waktu itu masih berusia sekitar 6 tahun. Suatu ketika, saat usiaku 6 atau 8 tahun, pada waktu subuh sekitar jam 5 pagi, aku dibangunkan dalam kondisi yang masih sangat mengantuk dan untuk usiaku masih kecil terasa berat sekali. Aku diseret ke kamar mandi dan disiram dengan air dingin karena aku susah sekali dibangunkan.


Hal tersebut membuatku menangis serta akhirnya menimbulkan penyakit alergi dingin setelah beberapa bulan dari kejadian tersebut. Lalu, banyaknya perlakuan kasar baik verbal maupun fisik yang aku alami oleh Ayahku membuat aku semakin tertekan. Aku menyembunyikan rasa sakit tersebut dan diam selama 17 tahun, karena tidak hanya persoalan antara Ayah dan aku, tetapi Ayahku ini memang terkenal temperamen dan kerap melakukan KDRT terhadap ibuk. Singkat cerita, hal tersebut menjadi luka yang menjadikanku berpikir bahwa “Wanita harus lebih tangguh dan jangan diinjak-injak oleh laki-laki.” Tak hanya pemikiran tersebut, kecemasan saat aku menjalani kehidupan sehari-hari maupun hubungan personal dengan lawan jenis juga mempengaruhiku. Hal tersebut membuat diriku menjadi rigid (kaku). Selain itu kehilangan kepercayaan akibat ditinggalkan orang yang pernah dekat dengan diriku menjadi salah satu pemicu adjustment disorder ku juga.


Gejala apa yang aku rasakan saat itu terjadi? Tanganku sudah pasti keringat dingin, kakiku bergerak-gerak saat duduk, pikiranku bercabang kemana-mana, mudah emosi, perasaan sedih yang kalut dan mengalami kebingungan yang sangat besar. Aku bisa menangis secara tiba-tiba jika sedang diam dan merasakan ada yang berkecamuk di dalam dada. Pokoknya rasanya tidak enak sekali dan tidak karuan, termasuk mood swing. Sebelum ke Psikiater yang aku lakukan untuk release stress ku adalah menyikat kamar mandi hingga bersih. Jika ada noda di bajuku, pasti kupastikan bagaimana caranya agar nod aitu harus hilang. Akhirnya setelah observasi dilakukan, Dokter Psikiaterku memberikan resep obat untuk menahan gejala-gejala tersebut dan obat tidur. Selama tiga bulan aku mengonsumsi obat tersebut, rasanya tidak yakin apakah ini sugestiku atau memang ada penahan supaya gejala tersebut tidak muncul karena itu berhasil menahan gejala-gejala yang timbul, tapi aku merasa seperti ada yang hilang.


Akhirnya, aku bercerita kepada temanku yang berprofesi dokter, kemudian ia menyarankan untuk berhenting mengonsumsi semua obat-obatan tersebut dan mulai untuk mencari kegiatan yang positif dan tak lupa beribadah. Akhirnya, saran temanku yang seorang Dokter ini, aku ikuti dan terbukti sampai sekarang alhamdulillah aku sudah tidak pernah memakai obat-obatan psikotropika. Aku hanya mengalihkan energiku dan mengerjakan pekerjaan yang sesuai minatku atau passionku. Aku juga rutin melakukan ibadah karena aku meyakini jika ada niat ke jalan yang lebih baik, maka Tuhan juga akan memberikan jalan yang lebih baik.


Pesanku kepada teman-teman SI, khususnya para penyintas ataupun orang-orang yang mempunyai disorder tertentu, jangan malu untuk cari pertolongan kepada tenaga ahli dan tidak lupa meminta pertolongan kepada yang memiliki jiwa kita yaitu Tuhan YME. Kemudian, membiarkan yang lalu menjadi pelajaran untuk kita agar lebih baik lagi, meskipun hal itu menyakitkan tetapi akan menjadi pembelajaran hidup untuk kita lebih kuat dari sebelumnya.


11 views0 comments

Recent Posts

See All